REUNI BUS KLASIK : Berkumpul, Mengenang dan Bersenang-senang

REUNI BUS KLASIK Berkumpul, Mengenang dan Bersenang-senang "Dalam cat...

Manunggal Ing Jiwo

Manunggal Ing Jiwo Seorang pelaku dunia usaha transportasi bus pernah ...

Satu Trip Dua SR-1 Terlampaui (Bagian 1)

Satu Trip Dua SR-1 Terlampaui (Bagian 1) Tak lebih dari satu jam menunggu,...

  • REUNI BUS KLASIK : Berkumpul, Mengenang dan Bersenang-senang

    Monday, 04 April 2011 16:54
  • Manunggal Ing Jiwo

    Friday, 15 April 2011 01:16
  • Satu Trip Dua SR-1 Terlampaui (Bagian 1)

    Sunday, 08 May 2011 08:11
Hidup Segan, Mati Pun Tak Mau...

dvsMungkin kata - kata itulah yang paling tepat dalam menggambarkan keadaan dan nasib perusahaan otobus (PO) yg berasal dari daerah Sumatera Barat, semenjak " invasi " harga tiket pesawat yang murah dan terjangkau, kondisi PO yang ada di ranah minang kini makin berada di ujung tanduk, bahkan tak sedikit dari mereka yang " gulung tikar " karena tak mampu menanggung beban biaya operasional yang semakin tinggi.

Padahal pada era 1990 - 1999 waktu harga tiket pesawat masih mahal dan hanya bisa dijangkau bagi mereka yang mampu saja, PO asal SumBar berada dalam puncak kejayaannya, tiap hari puluhan armada yang bertujuan ke kota - kota di Sumatera Barat seperti kota Padang, Pariaman, Lubuk Basung, Bukittinggi, Payakumbuh atau rute sebaliknya bisa dikatakan 80- 90% terisi, bahkan tak jarang PO berani membuka sub-agen dikota2 kecil demi pelanggannya, kota seperti Maninjau, Batu Sangkar, Sawahlunto, Talawi, dan Lintau, karena memang saat itu Bus lah yang menjadi transportasi favorit masyarakat karena harga tiketnya cukup terjangkau dibanding dengan harga tiket pesawat waktu itu, jarak tempuh yg mencapai 32 -36 jam perjalanan darat pun tak menjadi masalah bagi masyarakat.

ansPada saat itu, jika tak ingin kehabisan tiket, maka harus dipesan minimal seminggu sebelum berangkat. Agen dan sub-agen pun banyak bermunculan dikota2 yg merupakan "jalur gemuk" dibeberapa kota Sumatera Barat. PO pun mereguk keuntungan dari tingginya permintaan para konsumen mereka, tiap hari dari garasi/pool mereka bisa diberangkatkan paling sedikit 3-5 armada pada hari biasa, tetapi jika masuk musim ramai seperti liburan sekolah atau lebaran, armada yg diberangkatkan melonjak hingga mencapai 8 - 10 armada perhari. Kelas yg ditawarkan PO pun beragam, mulai dari ekonomi seat 2-3, Jumbo 2-2, Patas AC 2-2, Execuitve 2-2, hingga Super Executive 2-1. Sebagai contoh beberapa PO yang waktu itu mengeluarkan armada kelas Super Executive adalah, PO Transport Express, PO NPM, PO Lorena, PO Bintang Kedjora, dan PO ANS, ada 5 armada yang berangkat dalam sehari hanya dari  kelas Super Executive saja, belum ditambah dari kelas Executive, Patas AC dan kelas Ekonomi dari beberapa PO lainnya.

Sisi lain juga bisa dilihat dari meningkatnya pelayanan yang diberikan PO terhadap penumpangnya, bisa dilihat dari mewahnya ruang tunggu penumpang PO ANS di pool JL. Khatib Sulaiman kota Padang atau Jl. Pemuda Rawamangun, Pool Lorena Jl. Raya Bypass Padang ( skrg menjadi Pool ALS ), Ruang tunggu penumpang PO Transport Express Jl. Raya Lubuk Alung - Padang, Pool PO NPM di Ulak Karang kota Padang, semua demi memuaskan penumpangnya waktu itu.

Tapi semenjak masuknya beberapa perusahaan penerbangan dwngan slogannya "siapapun bisa terbang" dengan tarif murahnya, keadaan berubah dari sebelumnya. Masyarakat yang tadinya menganggap bus adalah transportasi favorit jika ingin menuju Jakarta atau sebaliknya, bergeser dari terminal atau agen bus, menjadi memenuhi bandar udara Tabing kota Padang (sebelum pindah ke Minangkabau International Airport) waktu itu. Armada yang diberangkatkan oleh beberapa PO menurun drastis, kelas Super Executive ditiadakan dan hanya bersisa kelas Executive, Patas AC dan Ekonomi saja, sub-sub agen dibeberapa kota ditutup, bahkan beberapa PO seperti PO APD dan Usaha Muda pun gulung tikar karena tak mau menanggung resiko lebih besar serta tak mampu menutupi tingginya biaya operasional yang berbanding terbalik dengan makin sepinya penumpang, pernah PO mensiasati harga tiket bus diturunkan agar mengimbangi harga tiket pesawat, tapi tetap saja respon konsumen saat itu tetap tertuju pada euforia harga tiket pesawat terbang murah. Maka para pengusaha PO pun hanya bisa pasrah menerima keadaan dan hanya bisa bertahan dengan kondisi seadanya.

Pernah saya mendengar dari salah seorang pemilik PO yg berkata "untuk memberangkatkan 1 armada sajanpm sangat sulit dalam kondisi saat ini, 25 % isian penumpang saja kita sudah sangat bersyukur, mungkin cuma musim ramai dan lebaran aja kita baru bisa berharap banyak", belum lagi jumlah armada yang menumpuk di pool menunggu diberangkatkan, dimana disana ada para driver dan kernet yg juga harus mencari uang utk keluarganya, semua dalam kondisi serba sulit. Pernah juga berbincang dengan driver drari salah satu PO yg menyebutkan bahwa "pihak kantor hanya memberi setengah uang operasional, selebihnya mereka harus mencari tambahan penumpang dijalan, jika masih tidak mencukupi, ya terpaksa berhutang kepada pihak Rumah Makan ", ujar sang driver.

Kondisi memprihatinkan pun juga terlihat dari pihak PO, coba tengok sekarang kondisi kantor / pool PO ANS di Jl. Raya Padang Luar Bukittinggi, kantor yang dulunya cukup mewah, kini penuh dengan "onggokan" armada yang menjadi besi tua karena tidak terpakai lagi atau spare part sudah di kanibal utntuk armada lain, tak jauh berbeda dengan kondisi Pool PO NPM di Padang ataupun Padang Panjang, Pool PO Gumarang Jaya di daerah Garegeh, Bukittinggi penuh dengan puluhan armada yang sudah tak terpakai atau hanya sekedar menunggu giliran untuk diberangkakan ke Jakarta, bahkan seorang driver mengaku sudah hampir 1 minggu berada di pool hanya utk menunggu giliran berangkat. "darimana kami dapat uang buat biaya makan keluarga, kami cuma bisa pasrah".

Bagi para driver yang tidak tahan dengan kondisi ini, memutuskan mencari alternatif pekerjaan lain seperti menjadi supir angkutan kota atau supir truk. Tak cukup sampai disini, para pengusaha PO pun harus putar otak menghadapi kondisi ini jika mereka tak ingin mengikuti nasib beberapa PO lain yg sudah gulung tikar, salah satu contoh adalah PO Transport Express dan PO ANS, mereka menambah armadanya untuk ukuran minibus ELF yg digunakan untuk melayani rute Bukittinggi - Padang PP, saat ini armadanya berjumlah puluhan.

teContoh lain masih dari PO Transport Express yang saat ini mensiasati sepinya penumpang tujuan Jakarta - Padang - Pariaman dengan mengganti armada bus besarnya dengan bus medium 3/4 dengan maksud mengurangi beban operasional dijalan. Mungkin banyak hal lain yg dilakukan para pengusaha PO untuk menghadapi situasi ini, semoga saja para PO asal Sumatera Barat Khususnya dan PO - PO lainnya dari bagian Sumatera yang juga kiranya mengalami kondisi yang serupa bisa tetap bertahan dan pada saatnya nanti kembali pada masa kejayaannya.  Amiiinn. (Ilham)
 
Online Status
Polls
Apa yang menarik dari LEGACY produk terbaru dari karoseri Laksana