REUNI BUS KLASIK : Berkumpul, Mengenang dan Bersenang-senang

REUNI BUS KLASIK Berkumpul, Mengenang dan Bersenang-senang "Dalam cat...

Manunggal Ing Jiwo

Manunggal Ing Jiwo Seorang pelaku dunia usaha transportasi bus pernah ...

Satu Trip Dua SR-1 Terlampaui (Bagian 1)

Satu Trip Dua SR-1 Terlampaui (Bagian 1) Tak lebih dari satu jam menunggu,...

  • REUNI BUS KLASIK : Berkumpul, Mengenang dan Bersenang-senang

    Monday, 04 April 2011 16:54
  • Manunggal Ing Jiwo

    Friday, 15 April 2011 01:16
  • Satu Trip Dua SR-1 Terlampaui (Bagian 1)

    Sunday, 08 May 2011 08:11
Sate Kuda Pak Rehan, Rawamangun

“tapi kalau lagi ramai seperti waktu liburan kemarin, kami bisa menghabiskan 200 sampai 250 tusuk sate mas..”

satekuda1Kemarin selagi melewati jalan Pemuda Rawamangun tidak sengaja mata tertuju pada sebuah warung tenda pinggir jalan yang bertuliskan Sate Kuda dan Sop Kuda Jogja Pak Rehan.  “Wuihh.. jarang-jarang nih ada sate kuda di Jakarta biasanya sate kuda banyak di Jogja..” batin saya.

Akhirnya saya merapat di warung tersebut..  tanpa pikir panjang saya pesan 1 porsi (10 tusuk) sate kuda. Bila dilihat sekilas, sate kuda terlihat seperti daging kerbau. Namun yang membedakan, daging kuda berwarna merah dan bebas lemak. Tidak adanya lemak pada daging kuda dibuktikan dengan tidak adanya asap saat daging dibakar.

Ketiadaan lemak ini tentu menjadi kelebihan yang bisa menjadi alternatif bagi mereka yang tidak menyukai satekuda3kolesterol tinggi. Tetapi akibatnya rasa daging kuda jadi tidak segurih daging kambing, kerbau ataupun daging sapi.

Menurut Pak Rehan, mengolah daging kuda sebenarnya relatif mudah dibandingkan dengan daging kambing. Bau daging kambing yang prengus harus dihilangkan dengan berkali-kali rebusan, sedangkan daging kuda cenderung tak berbau.

Pak Rehan menyatakan untuk bisa menghasilkan rasa yang gurih, dia menggunakan bumbu cair kacang tanah, bawang putih, lada, gula merah, plus kecap tanpa garam untuk bumbu saat pembakaran.

Bumbu ini dicelupkan dua kali selama pembakaran. Sementara bumbu ketika disantap berupa cabai rawit hijau, tomat, bawang merah, dan kecap.

Pak Rehan mengakui, untuk bisa menghidangkan sate kuda yang empuk, dia harus memperlama proses pembakaran. Jika biasanya sate ayam membutuhkan waktu bakar selama 10 menit, daging kuda membutuhkan waktu dua kali lipat.

satekuda2Masih menurut pak Rehan setiap malam warungnya bisa menghabiskan 150 sampai dengan 200 tusuk sate kuda dan untuk sop kudanya bisa menghabiskan 15-20 porsi.. “tapi kalau lagi ramai seperti waktu liburan kemarin, kami bisa menghabiskan 200 sampai 250 tusuk sate mas..” begitu menurut pak Rehan. Nama Rehan sendiri diambil dari nama anak laki-lakinya.

Menurut pak Rehan untuk daging kudanya sendiri didatangkan langsung dari Jogjakarta “setiap bulan kita 3 kali mendatangkan daging kuda dari Jogja, sekali datang minimal 50 kg jadi dalam sebulan kurang lebih kita mendatangkan sekitar 150 Kg daging kuda” kata pak Rehan sumringah.

Warung Sate kuda dan sop kuda pak Rehan berlokasi di Jl. Pemuda Rawamangun Jakarta Timur, seberang Lab.School, buka mulai pukul 16.00 sampai dengan pukul 23.00. Untuk 1 porsi sate kuda yang berisi 10 tusuk dihargai Rp 20.000,- sedangkan semangkok sop kuda dihargai Rp 15.000,- cukup terjangkau bukan… (Reportase wiwid)

 
Online Status
Polls
Apa yang menarik dari LEGACY produk terbaru dari karoseri Laksana