“tapi kalau lagi ramai seperti waktu liburan kemarin, kami bisa menghabiskan 200 sampai 250 tusuk sate mas..”
Kemarin selagi melewati jalan Pemuda Rawamangun tidak sengaja mata tertuju pada sebuah warung tenda pinggir jalan yang bertuliskan Sate Kuda dan Sop Kuda Jogja Pak Rehan. “Wuihh.. jarang-jarang nih ada sate kuda di Jakarta biasanya sate kuda banyak di Jogja..” batin saya.Akhirnya saya merapat di warung tersebut.. tanpa pikir panjang saya pesan 1 porsi (10 tusuk) sate kuda. Bila dilihat sekilas, sate kuda terlihat seperti daging kerbau. Namun yang membedakan, daging kuda berwarna merah dan bebas lemak. Tidak adanya lemak pada daging kuda dibuktikan dengan tidak adanya asap saat daging dibakar.
Ketiadaan lemak ini tentu menjadi kelebihan yang bisa menjadi alternatif bagi mereka yang tidak menyukai
kolesterol tinggi. Tetapi akibatnya rasa daging kuda jadi tidak segurih daging kambing, kerbau ataupun daging sapi.
Pak Rehan menyatakan untuk bisa menghasilkan rasa yang gurih, dia menggunakan bumbu cair kacang tanah, bawang putih, lada, gula merah, plus kecap tanpa garam untuk bumbu saat pembakaran.
Pak Rehan mengakui, untuk bisa menghidangkan sate kuda yang empuk, dia harus memperlama proses pembakaran. Jika biasanya sate ayam membutuhkan waktu bakar selama 10 menit, daging kuda membutuhkan waktu dua kali lipat.
Masih menurut pak Rehan setiap malam warungnya bisa menghabiskan 150 sampai dengan 200 tusuk sate kuda dan untuk sop kudanya bisa menghabiskan 15-20 porsi.. “tapi kalau lagi ramai seperti waktu liburan kemarin, kami bisa menghabiskan 200 sampai 250 tusuk sate mas..” begitu menurut pak Rehan. Nama Rehan sendiri diambil dari nama anak laki-lakinya.
Warung Sate kuda dan sop kuda pak Rehan berlokasi di Jl. Pemuda Rawamangun Jakarta Timur, seberang Lab.School, buka mulai pukul 16.00 sampai dengan pukul 23.00. Untuk 1 porsi sate kuda yang berisi 10 tusuk dihargai Rp 20.000,- sedangkan semangkok sop kuda dihargai Rp 15.000,- cukup terjangkau bukan… (Reportase wiwid)
| Next > |
|---|


